Thursday, 26 April 2012

Teknik Wawancara


Paradigma penelitian secara garis besar dibagi menjadi dua. Paradigma pertama adalah kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kuantitatif dalam prosesnya akan berhubungan dengan model-model matematik, dan statistik. Sedangkan, penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik.  Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dalam kegiatannya, peneliti tidak menggunakan angka dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya.

Salah satu bentuk pengumpulan data yang digunakan pada penelitian kualitatif adalahwawancara. Banyak peneliti mengalami kesulitan mewawancarai orang karena orang cenderung menjawab dengan singkat.
Wawancara pada penelitian kualitatif memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan wawancara lainnya seperti wawancara pada penerimaan pegawai baru, penerimaan mahasiswa baru, atau pada penelitian kuantitatif. Wawancara pada penelitian kualitatif merupakan pembicaraan yang mempunyai tujuan dan didahului beberapa pertanyaan informal. Wawancara penelitian lebih dari sekedar percakapan dan berkisar dari informal ke formal. Walaupun semua percakapan mempunyai aturan peralihan tertentu atau kendali oleh satu atau partisipan lainnya, aturan pada wawancara penelitian lebih ketat. Tidak seperti pada percakapan biasa, wawancara penelitian ditujukan untuk mendapatkan informasi dari satu sisi saja. Oleh karena itu, hubungan asimetris harus tampak. Peneliti cenderung mengarahkan wawancara pada penemuan perasaan, persepsi, dan pemikiran partisipan.

Jenis-jenis Wawancara
Estenberg dalam Sugiyono (2010: 233) mengemukakan tiga jenis wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semistruktur, dan tidak terstruktur.
Wawancara terstruktur (structured interview) digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu, dalam melakukan wawancara pewawancara telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini, setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan pengumpul data mencatatnya. Dengan wawancara terstruktur ini pula, peneliti dapat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Tentunya, pengumpul data tersebut harus diberi training agar mempunyai kemampuan yang sama.
Wawancara semistruktur (semistructure interview) sudah termasuk dalam kategori in-depth interview yang pelaksanaanya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dan pihak yang diajak wawancara diminta pendapatnya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.
Wawancara tidak berstruktur (unstructured interview) merupakan wawancara yang bebas dan peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Wawancara tidak berstruktur atau terbuka sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau malahan untuk penelitian yang lebih mendalam tentang subjek yang diteliti. Pada penelitian pendahuluan, peneliti berusaha memperoleh informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada, sehingga peneliti dapat menentukan secara pasti permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti.
Langkah-langkah Wawancara
Lincoln dan Guba dalam Sugiyono (2010: 235) mengemukakan tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1)      menetapkan kepada siapa wawancara itu dilakukan;
2)      menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan;
3)      mengawali atau membuka alur wawancara;
4)      melangsungkan alur wawancara;
5)      mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya;
6)      menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan;
7)      mengidentifikasi tindak lanjut hasl wawancara yang diperoleh.
Jenis-jenis Pertanyaan Wawancara
Ketika menanyakan suatu pertanyaan, pewawancara menggunakan berbagai teknik komunikasi dan cara bertanya. Patton dalam Fraenkel dan Wallen (2008: 448-449)telah mengidentifikasi enam jenis pertanyaan dasar yang dapat ditanyakan orang. Beberapa atau semua  pertanyaan ini  boleh ditanyakan selama wawancara. Enam jenis pertanyaan tersebut adalah: (1) pertanyaan latar belakang atau demografis; (2) pertanyaan pengetahuan; (3) pertanyaan pengalaman atau perilaku; (4) pertanyaan opini atau nilai; (5) pertanyaan perasaan; dan (6) pertanyaan sensori.
Pertanyaan latar belakang atau demografis adalah jenis pertanyaan rutin tentang karakteristik latar belakang responden. Diantaranya termasuk pertanyaan tentang pendidikan, jabatan sebelumnya, umur, pendapatan, dan semacamnya.
Pertanyaan pengetahuan adalah pertanyaan peneliti untuk menemukan informasi faktual (seperti dibandingkan dengan opini mereka, kepercayaan, dan sikap) yang dimiliki responden. Pertanyaan pengetahuan tentang suatu sekolah, misalnya, mungkin termasuk pertanyaan tentang macam-macam mata pelajaran yang bisa diambil oleh siswa, prasyarat mata pelajaran, jenis aktivitas ekstrakurikuler yang disediakan, aturan sekolah, kebijakan pendaftaran, dan sejenisnya. Dari perspektif kualitatif, apa yang ingin peneliti temukan adalah apa yang responden pertimbangkan menjadi informasi faktual (yang bertentangan dengan kepercayaan atau tingkah laku).
Pertanyaan pengalaman atau perilaku adalah pertanyaan seorang peneliti untuk menemukan apa yang sedang dilakukan responden sekarang atau telah dilakukan di masa lalu. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan pengalaman, perilaku, atau aktivitas yang dapat diamati atau pun tidak (untuk alasan seperti saat peneliti tidak ada). Contoh pertanyaannya "Seandainya saya berada di kelas Anda pada semester lalu, apa yang saya akan lakukan saat itu?" atau "Seandainya saya bersama Anda di sekolah Anda pada waktu yang lalu, pengalaman apa yang dapat saya alami seperti yang Anda miliki?"
Pertanyaan opini atau nilai adalah pertanyaan peneliti untuk menemukan apa yang dipikirkan orang mengenai beberapa topik atau isu. Jawaban atas pertanyaan tersebut mengacu pada tujuan, kepercayaan, perilaku, atau nilai responden.
Pertanyaan perasaan adalah pertanyaan seorang peneliti untuk menemukan bagaimana responden merasakan sesuatu. Pertanyaan perasaan diarahkan pada tanggapan emosional orang-orang mengenai pengalaman mereka. Misalnya termasuk pertanyaan seperti "Bagaimana perasaan Anda tentang perilaku siswa di sekolah ini?" atau "Seberapa besar ketertarikan Anda mengikuti kelas senam?"
Pertanyaan perasaan dan pertanyaan opini sering membingungkan. Sangat penting bagi seseorang yang ingin menjadi pewawancara mampu membedakan antara dua jenis pertanyaan tersebut dan mengetahui kapan menggunakannya masing-masing. Untuk menemukan bagaimana seseorang merasakan suatu isu tidaklah sama dengan menemukan opininya tentang isu itu. Pertanyaan, "Bagaimana menurut Anda (apa opini Anda) tentang kebijakan pekerjaan rumah guru Anda?" meminta opini responden – Apa yang responden pikirkan - tentang kebijakan itu. Pertanyaan, "Bagaimana perasaan Anda (apa yang Anda sukai atau tidak Anda sukai) tentang kebijakan guru Anda mengenai pekerjaan rumah?" menanyakan bagaimana perasaan responden (sikapnya) terhadap kebijakan itu. Keduanya walaupun tampak mirip jelas meminta informasi yang berbeda.
Pertanyaan sensori adalah pertanyaan seorang peneliti untuk menemukan apa yang telah dilihat, didengar, dirasa, dibaui, atau disentuh responden. Contoh pertanyaan, "Ketika Anda masuk kelas, apa yang Anda lihat?" atau "Apa yang sering ditanyakan guru Anda kepada  Anda di kelas?" Walaupun pertanyaan jenis ini bisa diperlakukan sebagai suatu bentuk pertanyaan perilaku atau pengalaman, hal ini sering dilewatkan oleh peneliti selama melakukan wawancara.
Perilaku Wawancara
Ada sejumlah harapan untuk semua wawancara. Fetterman dalam Fraenkel dan Wallen (2008: 449-451) mengemukakan beerapa hal yang penting dilakukan dalam melakukan wawancara, yaitu:
·         menghormati kultur kelompok yang sedang diteliti;
·         menghormati individu yang sedang diwawancarai;
·         Bersikap alami;
·         megembangkan hubungan yang sesuai dengan peserta;
·         menanyakan pertanyaan yang sama dengan cara yang berbeda selama wawancara;
·         meminta orang yang diwawancarai untuk mengulangi jawaban atau pernyataant ketika terdapat beberapa keraguan tentang suatu komentar;
·         mengubah siapa yang mengendalikan arus komunikasi;
·         menghindari pertanyaan membimbing;
·         jangan menanyakan pertanyaan yang menjawab ya atau tidak;
·         hanya menanyakan satu pertanyaan pada satu waktu;
·         jangan menyela.
Alat-alat Wawancara
Wawancara membutuhkan alat-alat wawancara yang tepat agar hasil wawancara dapat terekam dengan baik dan peneliti memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada informan. Menurut Sugiyono (2010: 239) alat-alat yang diperlukan dalam wawancara adalah:
·         buku catatan berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan informan.
·         tape recorder berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan.
·         Kamera berfungsi untuk memotret peneliti pada saat melakukan wawancara sehingga dapat dimafaatkan sebagai bukti penelitian.
Daftar Pustaka
Creswell, J.W. (1998). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five traditions. Thousand Oaks: Sage Publication.
Denzin, Norman K. Dan Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Fraenkel, Jack R. Dan Norman E. Wallen. 2008. How to Design and Evaluate Research in Education. United States: Mc. Graw Hill
Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda
Satori, Djam’an dan Aan Komariah. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Sukardi. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Buni Aksara
Syamsudin, A. R. Dan Vismaia S. Damaianti. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Rosda Karya.

No comments:

Post a Comment